-->

Tari Elang, Tarian Adat Suku Anak Dalam

Tari Elang, Tarian Adat Suku Anak Dalam

Tari Elang biasanya ditampilkan pada saat ada upacara yang dilaksanakan oleh Orang Rimbo, dan pelaksanaan upacara dilaksanakan jauh di tengah rimba yang tempat tersebut telah ditentukan oleh malim (dukun) yang pemimpin upacara.

Tari Elang adalah tari tradisi yang ada dan menjadi milik Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang hidup di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Tari ini berfungsi sebagai media untuk memanggil para Dewa dalam pelaksanaan ritual yang dilakukan oleh Orang Rimba, seperti ritual/upacara pengobatan, perkawinan, ataupun bebalai lainnya.

Dalam pertunjukannya, Tari Elang menggunakan iringan musik berupa mantera-mantera yang dilantunkan atau didendangkan oleh si penari. Penari menggunakan sehelai kain panjang sebagai perlengkapan tari. Kain panjang dianggap oleh Orang Rimba sebagai simbol dari sayap burung Elang (menurut kepercayaan Orang Rimba/Suku Kubu di dalam burung Elang bersemayang roh Dewa Elang).

Setiap kegiatan ritual yang dilaksanakan oleh Orang Rimbo, merupakan suatu kegiatan sakral sehingga pihak lain di luar komunitas rimba tidak diizinkan untuk melihatnya, karena mereka berkeyakinan bahwa ritual yang dilaksanakan tidak akan berhasil apabila ada pihak lain di luar masyarakat rimba ada di antara mereka, karena Dewa-Dewa tidak akan datang. (hasil wawancara dengan temenggung Tarib, juli 2008).

Dalam pelaksanaannya, maka busana yang digunakan adalah busana sehari-hari wanita rimba, sedangkan tujuan dipertunjukkannya Tari Elang adalah untuk memanggil roh dan dewa-dewa. Seperti kegiatan upacara lainnya, maka sebelum dilaksanakan pementasan tari Elang di dalam rimba maka tentunya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu adanya bunga-bunga hutan yang digunakan sebagai media penghubung kepada para Dewa.

Bunga-bunga yang dipersembahkan kepada dewa, akan berbeda untuk setiap Dewa, seperti Dewa Langit menggunakan bunga antui, Dewa Gunung menggunakan bunga cempaka hutan. Namun saat ini bunga-bunga hutan sudah sangat sulit didapat karena semakin berkurangnya rimba sebagai wilayah tinggal Orang Rimba.

Tari Elang sebagai kesenian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan milik Orang Rimbo dapat menjadi identitas budaya masyarakat tersebut setelah mereka hidup di luar rimba dan dimukimkan dalam wilayah desa terdekat.

Pada Orang Rimbo yang telah hidup menetap di luar rimba, terjadi keguncangan dalam identitas yang dimilikinya. Bila sebelum dimukimkan mereka menyebut dirinya Orang Rimbo karena berkaitan dengan rimba sebagai identitas berdasarkan ruang dan lingkungan mereka hidup selama ini, setelah berpindah dan hidup menetap di pemukiman di luar rimba, maka mereka tidak lagi identik dengan rimba.

Masa lalu mereka sebagai Orang Rimbo tidaklah lenyap sama sekali, akan tetapi mungkin sekarang dalam bentuk dan makna yang berbeda.

Share this:

Disqus Comments